Kemerdekaan Indonesia di dapatkan oleh perjuangan yang  gigih dari para pahlawan kita. Para pejuang ini rela berkorban harta dan bahkan nyawa untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hal inilah yang membuat kita sebagai penerus bangsa Indonesia untuk selalu menghormati dan mengingat perjuangan mereka. Meskipun mayoritas pejuang kemerdekaan Indonesia adalah pria, namun ada juga kaum wanita yang ikut berjuang. Pejuang wanita tersebut layaknya pria berjuang mati-matian mengorbankan jiwa dan raga untuk melawan penjajah. Berikut adalah lima pejuang wanita Indonesia:

Dewi Sartika

Dewi Sartika lahir pada 4 Desember 1884 di Bandung merupakan anak dari Raden Somanagara dan Nyi Raden Rajapermas. Dewi Sartika merupakan salah satu pejuang pendidikan perempuan pada era sebelum kemerdekaan Indonesia. Meskipun pada saat itu pendidikan bukan merupakan hal yang dianggap penting bagi kaum perempuan. Namun demikian, Dewi Sartika menilai bahwa perempuan juga  harus mempunyai hak untuk mengenyam pendidikan layaknya kaum pria. Hal itulah yang membuat beliau membuat Sakolah Istri yang merupakan sekolah perempuan pertama di Hindia-Belanda pada tahun 16 Januari 1904. Dewi Sartika kemudian mulai mengembangkan Sakolah Istri dan mendirikannya di beberapa wilayah Indonesia. Beliau menghembuskan nafas terakhir pada 11 September 1947 di usianya yang ke-62

Nyi Ageng Tirtayasa

Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi atau yang biasa dikenal dengan Nyi Ageng Tirtayasa lahir di Serang  pada tahun 1752. Nyi Ageng Tirtayasa merupakan anak dari Panglima Perang Sultan Hamengkeu Buwono I yang bernama Pangeran Natapraja. Latar belakang yang dimilikinya tersebut membuat beliau banyak belajar tentang pendidikan militer dari kecil dan ikut berperang melawan penjajah. Sepeninggalan ayahnya, Nyi Ajeng diangkat menjadi penguasa Serang. Hal inilah yang membuat beliau ikut berperang untuk membantu Pangeran Diponegoro melawan Belanda, meskipun dia sudah sagat tua pada saat itu. Pengetahuan tentang militer membuat Nyi Ajeng Serang dipercayakan untuk tetap memimpin pasukannya, meskipun pada saat itu dia harus ditandu. Nyi Ageng meninggal pada tahun 1828 di usia ke 74.

Cut Nyak Meutia

Cut Nyak Meutia lahir di Aceh pada tahun 1870 merupakan salah satu pejuang wanita Aceh. Beliau bersama suaminya  Teuku Cik Tunong berjuang untuk mengusir penjajah dari Aceh. Akan tetapi, suami Cut Meutia berhasil ditangkap dan dihukum mati pada tahun 1905. Sepeninggal suaminya beliau tetap melakukan perjuangan dengan suami barunya Pang Nanggroe, akan tetapi suami barunya juga terbunuh pada pertempuran 26 September 1910. Meskipun begitu, Cut Meutia tetap meneruskan perjuangannya dengan menjadi pimpinan pasukan suaminya tersebut. Perjuangan Cut Meutia akhirnya berhenti ketika dia gugur di medan pertempuran pada 24 Oktober 1910.

Martha Christina Tiahahu

Martha Christina Tiahahu lahir di Maluku pada 4 Januari 1800 yang merupakan salah satu pejuang perempuan termuda. Beliau sudah berjuang membantu sang ayah Kapitan Paulus Tiahahu untuk melawan penjajah pada usianya yang ke-17. Meskipun pada saat itu usianya masih sangat belia, beliau tidak takut terhadap penjajah dan berjuang di medan depan. Beliau terkenal dengan keberaniannya di medan depan pertempuran yang memberikan semangat pasukannya. Akan tetapi, penghianatan membuat beliau ditangkap oleh pihak penjajah. Martha Christina Tiahahu akhirnya dihukum mati oleh Belanda dengan cara digantung pada 2 Januari 1818. Beliau meninggal pada usianya yang masih sangat belia 17 tahun, 2 hari lagi sebelum usianya yang ke-18.

Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien lahir pada tahun 1848 di Aceh dan merupakan salah satu pejuang wanita Indonesia. Perjuangan Cut Nyak Dien dimulai ketika dia mengetahui bahwa suaminya Ibrahim Lamnga tewas ketika bertempur melawan penjajah. Hal itu membuat Cut Nyak Dien marah dan bersumpah untuk mengusir penjajah. Beliau bersama suami barunya Teuku Umar berjuang melawan penjajah, sampai akhirnya suaminya tewas pada 11 Februari 1899.  Sepeninggalan suaminya Cut Nyak Dien masih terus melanjutkan perjuangannya sampai usianya yang senja. Akan tetapi, perjuangan Cut Nyak Dien berhasil dihentikan oleh pihak penjajah, ketika beliau ditangkap dan dibuang ke Sumedang. Cut Nyak Dien menghembuskan nafas terakhirnya pada 6  November 1908.

  • Like jika anda suka dengan artikel ini
  • Share jika menurut anda artikel ini informatif
  • Komentar bila ada yang ingin anda tanyakan
  • Follow jika menginginkan update baru

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA ARTIKEL INI